Rum'
Mungkin aku cuma ingin kenangan bahagia itu terulang kembali,
tidak dengan keruwetannya. Ternyata masih saja seperti ini, masih saja aku
egois Rum, aku tak tau sampai kapan, entah harus bagaimana. Katanya orang bisa
berubah tapi jika ia ingin berubah, katanya.
Aku pernah waktu itu berubah, tapi ketika orang yang
bersama ku hilang aku malah kembali lagi pada semula. Sepertinya itu bukan
berubah, lebih tepatnya sedang bersimulasi. Tau tidak seperti ini terus-menerus
capek, kamu memang seyakin itu aku bisa berubah- aku pun yakin.
Tapi nggak secepat itu susah tau, kepala manusia ada
yang sekeras ini ya. Iya Rum’ aku tau kamu pasti kesal melihat ku- sama aku pun
kesal. Yasudah mari kita kesal bersama.
“menyebalkan sekali kamu”
Lucu tau Rum’ kalau kamu kesel gitu, tatapan yang
dingin sekaligus penekanan nada yang menggemaskan.
Lain kali kalau bisa seperti ini terus ya, kita main
dari jam delapan pagi sampai bisa lihat senja kayak gini dan gak kerasa pas
lihat jam lagi udah nunjukin ke angka sepuluh. Tenang, mama gak akan ngomel,
maksudnya gak akan ngomelin kamu.
“Kia aku tau kamu suka warna oren, dan tempat ini juga
aku tau kamu pasti suka”.
Percaya diri banget ya kamu, ajak aku ke tempat ini. Gimana
kalau aku nggak suka, gimana kalau aku minta untuk cepat-cepat pulang. Untuk warna
oren nya iya kamu betul, aku memang sudah jatuh cinta dari dulu sama oren jauh
sebelum kamu.
“jauh sebelum aku?”
Iya, iya jauh sebelum jatuh cinta sama kamu maksudnya.
Selalu deh Rum’ kalau aku bilang hal ginian tatapan kamu tuh seolah ngasih
pernyataan ‘aku gak percaya’. Ya, memang percaya jangan sama aku, percaya tuh
sama Tuhan. Tapi kalau masalah ini – masalah hati kamu harus percaya sama aku,
apalagi menyoal perasaan ku pada mu Rum’.
“Sudah basi Kia, aku cuma bisa ketawa sekarang denger
semua perkataan kamu. Kalimat yang sama keluar dari orang yang sama di waktu
yang berbeda-beda”
Kita berdua tau Kia, cerita ini bagimu tidak akan
pernah selesai dan kau tak pernah mau menyelesaikannya, selalu dengan cerita
bersambung yang tak pernah selesai.
Maka biarkan aku membuat akhiran dari kisah panjang
yang tak berujung ini. Biarkan aku memutuskan benang harapan yang tak kunjung
berwujud, menyelesaikan cerita-cerita yang buat kau dan aku makin kusut tak
beraturan.
Sesudah pulang dari sini dan kau tiba-tiba mengingat
ku, ingat ini juga Kia. Cerita kita telah usai disaksikan sang mentari yang
perlahan terbenam juga langit yang menyimpan semua percakapan kita hari ini.
Komentar
Posting Komentar